Showing posts with label Fotografi. Show all posts
Showing posts with label Fotografi. Show all posts

Monday, March 12, 2007

Ketika, Gambar Menjadi Peristiwa




Sepasang mata itu tidak mengarah kepadaku. Bola mata perempuan kulit hitam itu menatap jurusan lain. (Barangkali, ada yang hendak disimpannya seorang diri). Sedang, sebuah tangan kecil keriput berusaha meraih mulut perempuan itu. Sepertinya, ada yang hendak diucapkan dalam kata-kata,”Ibu, saya lapar!”

Peristiwa itu diabadikan oleh Finbarr O’Reilly di depan posko bantuan kemanusiaan di Tahoua Nigeria 1 Agustus lalu. Foto itulah yang memenangkan World Press Photo (WPP) 2005. Hasil bidikan fotografer Canada itu dipajang Galeri Foto Jurnalistik Antara Jakarta bulan Desember 2006 sampai Januari 2007 lalu.

Foto itu memang mengingatkan kepada kita masalah kelaparan di berbagai belahan dunia. Menurut lembaga bantuan kemanusiaan di seluruh dunia, setiap lima detik seorang anak meninggal akibat kelaparan. Sepuluh juta orang meninggal akibat bencana kelaparan setiap tahunnya. Ini lebih besar dari jumlah korban Aids, TBC dan malaria yang digabung sekaligus.

Ketika melangkahkan kaki ke rangkaian foto yang dipamerkan, pengunjung dapat pula melihat keadaan Aceh saat tsunami. Yang ada hamparan jenazah dan orang-orang menangis. Ini mengingatkan betapa kuatnya alam dan kecilnya manusia.

Selain tentang bencana, pengunjung pun dapat melihat sebuah kesedihan ketika harus berpisah dengan orang yang dicintainya. Tampak, seorang wanita yang hamil tua menyandarkan perut besarnya di samping sebuah peti mati yang tutupi bendera Amerika Serikat. Suaminya tewas di Irak. Bapak dari bakal anak di dalam kandungannya.

Ketika melihat foto-foto yang terpampang, Diana memuji para foto jurnalis yang memotret dalam keadaan yang dapat membahayakan nyawanya. Ia adalah salah satu penikmat foto yang datang ke galeri itu.

Lain lagi dengan Widi yang mengaku sudah lama menggeluti dunia fotografi. Menurutnya, sebagai sebuah kontes foto tingkat dunia, WPP 2006 telah sukses memilih foto-foto yang baik secara teknis maupun isi. Yah, kalo yang namanya World Press Photo, pasti kredibilitasnya udah ga diperhitungkan lagi. Proses kurasinya kan ketat. Jadi, fotonya pasti bagus-bagus.” , begitu ujarnya menanggapi.

Dari tahun ke tahun, WPP memang terus mengabadikan berbagai penderitaan yang terjadi di seluruh dunia. Dalam kontes tahun ini, konflik, ceceran darah dan tindakan brutal masih mewarnai hampir sebagian besar foto yang dipamerkan. Seolah-olah apapun tanggapan para penikmat foto, begitulah adanya gambaran kenyataan yang terjebak di dalam kamera.

Lewat tugas jurnalistiknya, para pewarta foto tidak hanya membuat sebuah karya demi kepuasan pribadi saja. Lebih daripada itu, foto-foto jurnalistik yang dipamerkan merupakan sebuah karya yang mencoba mencari celah memori setiap orang. Dari celah memori itulah diharapkan orang bisa bersimpati dan mau menyumbangkan dirinya untuk membuat dunia menjadi lebih baik dan layak ditinggali. Demikian, gambar-gambar itu pun menjadi peristiwa. Dan, tak jarang misi ini berdekatan dengan bahaya. (Mkl)