Monday, March 12, 2007

Dua Pameran Mengolah Ketakutan:

Satu Mati, Dua Kalah

*

Suatu ketika, kita harus berpisah dengan orang yang kita cinta, melepas milik kita yang paling disuka, atau mengorbankan diri bagi orang lain….Di sana, kita mengalami “kehilangan-kehilangan kecil”.

Kita berjalan dari kehilangan ke kehilangan. Sampai akhirnya, (tibalah waktunya) kita sendiri hilang sama sekali. Itulah “kehilangan besar”, nama lain buat kematian.

Jika kematian adalah bagian dari kehidupan, yang menjadi berarti karena mau menerima kematian, mengapa kematian tidak bisa diterima sebagai bagian dari kebudayaan, yang diciptakan oleh manusia agar hidupnya menjadi berarti?


Begitu bunyi ulasan menarik Sindhunata dalam penganta
r pameran lukisan yang digelar di Bentara Budaya Yogyakarta (14-22/02). Tajuknya, A Beautiful Death. Ulasan tersebut merupakan alasan mengapa seni harus menerima kematian sebagai bagian dari dirinya. Maksudnya, sumber inspirasi dalam berkarya.

Sesuai pengantarnya, karya-karya seniman Yogyakarta, Bali, Surabaya, Semarang dan Malang ini merupakan usaha kreatif dalam mengolah tema kematian dan keindahan. Agus Suwage (48) kembali mendapat tempat istimewa setelah memenangkan Trienal Seni Grafis 2006 lalu. Objek lukisannya sederhana: empat gagak yang hinggap di atas sekop yang tergeletak di tanah. Kenapa gagak-gagak pemakan bangkai itu hinggap di situ? Tentu, ada yang telah mati. Barangkali, lebih dari satu, puluhan entah mendekati ratusan sampai baunya cukup membuat empat gagak itu hinggap.

Lain halnya, Susilo Budi Purwanto (40). Seniman asal Magelang ini melukis seorang laki-laki berdiri menatap ke bawah liang tanah yang menampakkan langit biru dengan tangan terbuka. Lukisan itu berjudul ’Harapan di Tanah Mati’. Warna-warna gelap khas kematian dan kesedihan diolahnya dengan warna-warna cerah, tanda kebahagiaan. Di bawah tanah, ada langit. Di tengah penderitaan, di situ pula ada secercah harapan. Barang kali, begitu tafsir bebasnya.

Selain itu, ada juga karya yang memuat kritik nakal. Misalnya, The Last Memory karya Dyan Anggraeni Hutomo (50). Dilukisnya, seorang laki-laki bertopeng wayang sedang memangku kain seragam Korpri (Korps Pegawai Negeri) berwarna biru. Kemejanya putih. Dasinya hijau. Sementara di atas kepala lelaki itu empat tangkai bunga kamboja berjatuhan. Dan, yang setangkai telah jatuh di atas kain itu. Diterangkannya sebagai inskripsi, ”Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama”.

Sambutan publik cukup hangat rupanya. Jejaknya dapat dilirik di buku kesan dan pesan tamu. Seorang pengunjung bernama Rendra menuliskan demikian, ”Untuk setiap lukisan diberikan pandangan falsafah, makna terkandung atau arti minimal, supaya paham karya yang dipamerkan dijadikan satu ke semua atau satu-satu untuk masyarakat seluruhnya”. Ia juga mengungkapkan ”Hidup berarti, hidup tanpa seni berarti mati hati”.

Pengunjung lain juga mengungkapkan ”Aku suka Joni Ramlan dalam Menghantar Pulang”demikian tulis Agus, ”full of expression”.

**


Sementara itu, pameran seni rupa di Taman Budaya Yogyakarta (9/02-4/03) Group Galang Kangin (GK) Bali menghadirkan seni rupa dalam nuansa ekspresif. Gaya penyampaiannya abstrak. Dan, ada juga yang bergaya dekora-mitis.

Ekspresi seni bagi mereka adalah usaha menyampaikan suatu intepretasi kreatif terhadap kenyataan. Apa yang ditantang adalah kenyataan yang dangkal dan imitasi atas hal tersebut. Seni merupakan suatu petualangan ke dalam dunia yang tidak dikenal, yang hanya dapat diselidiki oleh orang-orang yang mau mengambil risiko (untuk menjadi lain). Hal ini tertuang dalam manifesto Galang Kangin.

Ini tidak berarti mereka hendak melepaskan aspek sosial begitu saja dalam seni. Hal ini ditunjukan oleh Made Supena (37) dalam karya tiga dimensinya. Karya instalasinya berupa patung-patung janin yang dijajar seperti bebatuan sungai. Ini merupakan kritik dan refleksi atas fenomena aborsi.

Menurut GK, dunia imajinasi bebas dengan khayalan, dan sangat berlawanan dengan pikiran normal. Bahwasanya, tidak perlu ada yang dipersoalkan apapun itu yang dilukis sepanjang dilukis dengan baik. Pendapat ini lazim diterima secara luas di antara para pelukis.

Karya-karya lain seniman yang tergabung dalam group GK menunjukkan gaya ekspresionis abstrak dengan tema seputar alam (eksotisme), terutama eksplorasi alam Bali. Salah satunya, lukisan yang berjudul Rangda I Dewa Gede Soma Wijaya (34). Lukisan ini didominasi warna-warna merah, putih dan hitam. Ini identik dengan Rangda, ikon dan Bali itu sendiri.

Sementara, dalam ”Jiwaku-Baliku” I Wayan Naya Swantha (35) terselipkan kain kotak-kotak berwarna hitam putih yang dilukis semi realis. Kain kotak-kotak hitam dan putih merupakan simbol spiritual Bali, juga simbol spiritualnya.

Pameran ini secara keseluruhan merupakan dekade perjalanan group Galang Kangin. Karya-karya mereka merupakan wujud ekspresi seni yang merangkum aspek sosial serta aspek visual estetik dalam standar formalisasi (akademis). Hal inilah yang dapat disebut sebagai kemenangan dan kekalahan.

Seperti yang terungkap juga dalam manifestonya, mereka tidak mau terlibat dalam perdebatan yang sia-sia masalah isme-isme. Boleh jadi, mereka justru menempuh jurusan-jurusan yang hampir tidak dapat diikuti oleh mode dan kecenderungan zaman.

***

Kedua pameran seni rupa ini sama-sama menampilkan kesatuan dalam dua hal. Sama seperti uang logam yang memiliki dua sisi, kematian dan kehidupan (keindahan) serta kemenangan dan kekalahan.

Hanya saja, pameran seni rupa A Beautiful Death memilih pengertian seni yang berpihak kepada dengan kehidupan.Maksudnya, seni buah kehidupan hendaknya dikembalikan kepada kehidupan.

Sementara itu, dalam Triumph dan Defeat GK memilih pengertian seni yang ditempatkan dalam wilayah seni itu sendiri. Maksudnya, seni ada pada dirinya sendiri. Pemenang entah pecundang.

Dan, kedua pameran tadi mefleksikan suatu ketakutan umum? Semoga ini bukan soal hutang yang belum tunai terbayar di masa lalu. Nama lain kehidupan dari yang mati, kemenangan dari yang kalah.

Hendaknya, teman-teman tahu siapa-siapa yang hendak berhitung….(Dha)

No comments: