Monday, March 12, 2007


Yang Sebentar Terbit di Blitar, 14 Februari 1945


Matahari belum juga terbit. Padahal hari sudah beranjak pagi. Kota Blitar tampaknya masih lelap dalam kantuk. Ruas jalanan masih sepi Lampu-lampu beranda Hotel Sakura masih menyala. Dan, pintu jendela hotel sekaligus kantor Kenpetai itu pun masih tutup rapat.

Orang-orang Jepang belum juga bangun. Tak tersadari oleh mereka ada ratusan mata mengintai. Ratusan pucuk senjata telah dikokang, dibidik-arahkan. Tinggal menanti aba-aba komandan, siap ditarik picu senjata-senjata itu.

Mereka adalah kesatuan tentara Pembela Tanah Air (Peta) Blitar yang disiapkan Jepang untuk Perang Asia Timur Raya. Untuk misi itu, kerja Romusha rakyat Blitar harus diabdikan. Dan, apa yang dijanjikan adalah negara merdeka.

Hajime!” teriak Sang Komandan Supriyadi. Keheningan pun pecah.

“Dorderdor…! Tar-tar-tar…! Bum! Zing!” Pekik amarah tumpah ruah. Pekik kematian buncah sebentar. Sesudahnya, tenggelam larut gegap gempita pemenang.

Begitu bayangan saya saat membaca sebuah buku di ruang baca Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Buku lawas itu saya ambil dari rak sebelah pojok. Sampulnya hitam, sedikit berdebu. Barangkali, sebersit niat yang sama gelapnya mendorong tangan saya untuk mencomotnya, meresapkan isinya. Demikian, bacaan itu saya teruskan sambil sedikit berkhayal.

Sesaat setelah membombardir kantor Kenpetai dan hotel Sakura, Supriyadi dan prajurit Peta Blitar melakukan upacara pengibaran bendera merah putih di muka daidan. Kemerdekaan diproklamirkan,”Blitar telah merdeka dari pendudukan Jepang”

Rupanya itu baru permulaan. Pertempuran masih akan berlanjut. Jepang jelas akan melakukan serangan balasan. Tentu, batalyon itu tak ingin tumpas sekali hantam. Maka, Sang Komandan Supriyadi, dr. Ismangil dan beberapa tokoh Peta lain memutuskan untuk berpencar.

Batalyon itu membagi diri ke dalam empat jurusan mata angin. Kelompok Utara yang dipimpin Shodanco Sunardjo menuju Tulung Agung. Kelompok Timur bergerak ke Malang; dibawah komando Shodanco Sunanto. Kelompok Selatan dalam kendali Shodanco Darsip dan Budanco Badri berangkat menuju Blitar Selatan. Sementara, Kelompok Barat bergerak ke Pare, Kediri dan Nganjuk di bawah perintah Shodanco S Djono dan Shodanco Muradi.

Misinya satu, membebaskan wilayah di luar Blitar dari pendudukan Jepang.

Sementara, Jepang yang telah mendengar adanya pemberontakan itu segera mengirimkan pasukannya. Armada tank, panser dan pesawat tempur dikerahkan.

Berapa pertempuran sengit terjadi, tak seimbang. Keempat pasukan itu akhirnya dipaksa menyerah sebelum misinya selesai terlaksana. Prajurit yang masih hidup itu digiring kembali ke daindannya. Sejumlah 55 prajurit dibawa ke Jakarta untuk diadili. Dr Ismangil, Muradi, Suparyono, Sunanto, Halir, Mangkudijaya, dan Sudarmo dijatuhi hukuman mati.

Pemberontakan pun gagal. Supriadi, komandan mereka, dinyatakan gugur. Sementara, jasad dan makamnya tak diketahui rimbanya. Terdengar kabar, Supriyadi tewas dibunuh saat penangkapannya di Tulung Agung. Sementara, versi lain mengatakan ia menghilang ke suatu tempat(?)

Begitulah cerita kemenangan ‘yang terbit sebentar’. Awan hujan entah petang yang menenggelamkannya. Sementara, ada yang bersikeras mengabadikannya. Darah terlanjur tumpah di tanah.

Dalam buku itu, disebutkan: belakangan, peristiwa serupa terjadi: di Cilacap Juni 1945 dan Cimahi beberapa hari sebelum proklamasi kemerdekaan republik.

Petugas perpustakaan memberi tanda,” Jamnya tutup.” Buku saya tutup. Segera saya melangkah keluar, ke tempat parkir. Sementara, buku itu masih ada di kepalaku.

62 tahun lalu peristiwa itu. Kota ini telah banyak berubah tentu: bangunan dan penghuninya. Barangkali, tidak sesuram dulu. Hotel Sakura, Kantor Kenpetai itu, kini telah disulap menjadi hotel megah dengan nama baru Hotel Lestari. Hotel ini kini terletak di pusat kota, Jalan Merdeka.

Kira-kira tiga kilometer ke arah Timur, berdiri bangunan kompleks SMPN III, V dan VI. Letaknya di jalan Shodanco Supriyadi. Dulunya, disinilah Markas Daindan Peta Blitar.

Tiga buah patung berdiri di halaman depan. Sementara,14 Februari ditetapkan Pemerintah Kota sebagai ”Hari Pemberontakan Tentara Peta Blitar” Tentu, ini tidak tercantum dalam kalender teman-teman. (Hen)

No comments: